Kemarahan gagal bertransformasi menjadi gerakan, dan hanya berputar sebagai siklus atensi: viral, ramai, marah, lalu hilang. Besok muncul isu baru, kemarahan baru, dan keramaian baru.
Ruang Resah – Kenapa mudah sekali gerakan yang mengatasnamakan rakyat dijinakkan?. Bukankah sudah terang benderang banalitas kekuasan dipertontonkan?. Bukankah juga telah telanjang kebebalan birokrasi, kerusakan ekonomi, dan pemiskinan struktural diperlihatkan?.
Rakyat saban hari dilucuti dengan kebijakan-kebijakan yang mencekik, tiap hari pula disuguhi adegan hedonisme para pejabat. Kembali lagi pertanyaannya, dengan kondisi yang amat terpuruk ini kenapa gerakan massa rakyat sulit diwujudkan?.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kelelahan Sosial
Asumsi sementara: rakyat telah letih, teramat letih bahkan. Biasanya pada titik paling nadir manusia cenderung memberontak. Tapi yang terjadi sebaliknya. Rakyat selalu punya cara untuk menenggang segala kepayahan hidup. Memang betul agaknya, bahwa daya bertahan orang plus-enamdua jauh di atas rata-rata manusia belahan dunia lainnya.
Dalam kondisi serba sulit lagi kritis kita masih bisa tidur lelap. Indehoy. Juga masih asyik cekikikan, pun menertawakan hidup. Seperti pernah disinggung Albert Camus, dalam situasi hidup yang serba absurd ada tiga pilihan yang mungkin: memasrahkan diri pada otoritas (penentu makna yang mutlak), bunuh diri, dan menerima segalanya dengan riang. Opsi terakhir sepertinya lebih kentara. Dan itu memang keahlian kita.
Kenapa kondisi psikologis rakyat ini penting dalam memobilisasi gerakan?, karena tanpa keterlibatan massa rakyat yang terjadi hanya pseudo revolution, sebuah gerakan semu dan rapuh.
Tuduhan Terhadap Agama
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya





