Tuduhan Terhadap Agama
Ada juga suara sumbang yang menuduh agama jadi biang penghambat gerakan massa rakyat, sambil menukil sabda usang Kiai Karl Marx, “Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.”
Saya pikir ini terlalu berlebihan, masyarakat kita ini memang punya agama (setidaknya di KTP), tapi belum tentu beragama. Bagaimana mungkin agama jadi sasaran tudingan, toh beragama saja tidak. Agama di kita hanya gaya-gayaan saja, hanya lipstik sosial belaka. Kalau benar beragama, iman seyogyanya menjelma menjadi teologi pembebasan: menggerakkan bukan membelenggu.
Kalaulah agama dijadikan instrumen relaksasi bagi mereka yang hidup dalam penderitaan dan ketidakadilan, atau diperlakukan sebagai alat ideologis yang dapat meredakan kesadaran kritis, itu hanya bentuk kebodohan saja, tidak ada sangkut paut dengan agama. Karena itu, klaim bahwa masyarakat kita religius sering kali tidak lebih dari selubung untuk menutupi kebobrokan yang sesungguhnya: kita gemar memamerkan simbol-simbol keagamaan, tetapi enggan menjadikan nilai-nilainya sebagai energi penggerak perubahan sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, acap kali kemarahan publik dipecundangi oleh ‘asu-asu‘ yang menangguk di air keruh. Eskalasi aksi, seperti yang sudah-sudah, sempat membumbung lalu menyusut akibat akrobat para penjilat. Ini terus berulang, rakyat hanya jadi komoditas, pion yang diperalat, dan objek kepentingan elite. Akhirnya, rakyat jenuh, jika pun terpaksa ikut dalam aksi hanya bersifat pragmatis-transaksional saja, demi sesuap nasi atau sebungkus kretek. Dengan kondisi psikologi publik demikian, terlalu muluk dan naif istilah revolusi digemakan, sebagaimana teriakan aktivis-aktivis itu.
Aksi Jalanan ke Konten
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya





