Setiap kali mendengar kata gotong royong hari ini, bayangan yang muncul biasanya tidak jauh-jauh dari cangkul, halaman sekolah, selokan mampet, atau bapak-bapak RT yang datang dengan sandal. Kadang cuma datang sebentar, menyapu dua tiga kali, lalu hilang entah ke mana. Manusiawi juga sebenarnya.
Di sekolah, gotong royong berarti murid-murid membawa alat kebersihan dari rumah. Di kantor, gotong royong berarti membersihkan ruangan bersama. Di kampung, gotong royong berarti kerja bakti Minggu pagi. Di grup WhatsApp RT, kata gotong royong biasanya muncul bersama kalimat, “Diharapkan membawa peralatan masing-masing.”
Tidak salah memang. Membersihkan lingkungan bersama adalah bagian dari gotong royong. Selokan memang perlu dibersihkan. Halaman sekolah memang perlu dirapikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tetapi masalahnya, pelan-pelan kita seperti mulai percaya bahwa gotong royong memang hanya itu. Seolah-olah makna gotong royong bersandar kepada sapu lidi, selokan, rumput liar, dan dokumentasi kegiatan.
Di sinilah letak persoalannya. Kita bisa merasa sudah menjadi masyarakat yang guyub hanya karena pernah kerja bakti bersama. Padahal, di hari-hari biasa, kita belum tentu tahu siapa tetangga yang sedang kesulitan, siapa yang sedang sakit, siapa yang sedang menahan lapar, atau siapa yang sebenarnya butuh bantuan tapi terlalu sungkan untuk meminta.
Padahal gotong royong jauh lebih besar daripada kerja bakti. Gotong royong bukan sekadar banyak orang mengerjakan satu pekerjaan, melainkan perasaan bahwa hidup bersama berarti ikut bertanggung jawab atas kehidupan orang lain. Di dalamnya ada keyakinan bahwa beban hidup tidak seharusnya ditanggung sendirian. Ada rasa bahwa kesusahan satu orang bisa menjadi urusan banyak orang.
Di titik ini, gotong royong sebenarnya punya aroma sosialisme yang kuat, yaitu hidup bersama dan saling menanggung. Yang kuat ikut menyangga yang lemah. Yang punya lebih ikut membantu yang kurang. Yang sedang lapang ikut menolong yang sedang sempit.
Gotong royong adalah sosialisme yang tumbuh dari pengalaman hidup masyarakat. Ia hadir ketika warga urunan untuk tetangga yang sakit. Ia hadir ketika orang-orang datang membantu keluarga yang sedang berduka. Ia hadir ketika hajatan ibu-ibu membawa makanan tanpa perlu diminta. Ia hadir ketika orang sekampung membantu hajatan, membangun rumah, memperbaiki jalan.
Karena itu, penyempitan gotong royong menjadi sekadar bersih-bersih sebenarnya bukan perkara kecil. Yang hilang bukan cuma keluasan makna sebuah kata, tetapi daya sosial dari sebuah gagasan. Gotong royong yang semula berarti solidaritas, saling bantu, dan pembagian beban hidup, pelan-pelan berubah menjadi kegiatan teknis yang aman, rapi, dijadwalkan, diabsen, difoto, dan dilaporkan.
Di sini Antonio Gramsci menarik dipakai sebagai kacamata. Gramsci melihat bahwa kekuasaan tidak selalu bertahan karena paksaan atau ancaman, tetapi karena berhasil membuat cara pandang tertentu terasa wajar dan masuk akal bagi masyarakat. Ia menyebutnya hegemoni. Sederhananya, orang menerima sesuatu sebagai normal tanpa merasa sedang diarahkan. Hegemoni bekerja lewat hal-hal sehari-hari seperti sekolah, bahasa, kebiasaan, media, acara rutin, sampai cara sebuah istilah terus dipakai dalam makna tertentu.
Kalau dipakai membaca gotong royong, masalahnya jelas. Gotong royong tidak dihapus dari kehidupan sosial kita. Justru ia terus dipuji dan diulang. Tetapi yang terus diulang adalah versi yang aman dan sempit yaitu kerja bakti, bersih-bersih, pengecatan pagar, atau kegiatan teknis lain yang enak difoto. Karena bentuk itu terus diajarkan dan dipraktikkan, lama-lama masyarakat menerima bahwa itulah arti gotong royong yang sebenarnya.
Akibatnya, makna gotong royong sebagai solidaritas sosial pelan-pelan memudar tanpa perlu dilarang secara terbuka. Ia tidak dimusuhi, tetapi dijinakkan. Ia tidak dibuang, tetapi diperkecil. Gotong royong disebut, tetapi yang dimaksud kerja bakti. Gotong royong dirayakan, tetapi yang dilakukan bersih-bersih. Gotong royong dijaga sebagai istilah, tetapi rohnya dibiarkan sekarat.
Maka ketika gotong royong hari ini makin sering dipersempit menjadi bersih-bersih, kita sedang melihat bentuk paling jinak dari sebuah gagasan sosial. Gotong royong dibuat tidak lagi berurusan dengan ketimpangan, kemiskinan, kesepian, atau beban hidup. Ia cukup dibuat berurusan dengan sampah, rumput liar, parit, dan cat pagar.
Kita kompak saat mengangkat sampah, tetapi belum tentu kompak saat ada warga yang butuh biaya berobat. Kita ramai saat mengecat pagar, tetapi sepi saat ada tetangga berduka.
Karena itu, yang perlu dikritik bukan kerja baktinya. Kerja bakti tetap penting. Yang perlu dikritik adalah ketika kerja bakti dianggap sebagai satu-satunya wajah gotong royong.
Kalau gotong royong hari ini hanya tinggal sepucuk sapu lidi, mungkin yang kotor bukan cuma halaman kita. Mungkin yang juga perlu dibersihkan adalah cara kita memahami kebersamaan.





