Akhir-akhir ini debat ekonomi makin panas. Dolar naik. Ancaman krisis mulai dilempar ke mana-mana. Moneter dibahas seperti kiamat tinggal menunggu trailer resmi. Minyak dunia naik sedikit, orang langsung bicara perang global. Selat Hormuz disebut-sebut terus, seolah warga kampung sebelah sudah siap mengungsi sambil bawa jeriken bensin.
Lalu ekonom dari berbagai rupa mulai bermunculan. Ada yang wajahnya tegang seperti baru habis dimarahi IMF. Ada yang terlalu santai sampai terasa mencurigakan. Ada yang bicara grafik sambil menunjuk layar penuh garis merah, seakan nasib rakyat memang ditentukan oleh PowerPoint.
Mereka datang silih berganti ke podcast, televisi, YouTube, TikTok, sampai potongan reels yang entah kenapa selalu berhasil masuk beranda saya. Dan itu yang mulai jadi keresahan pribadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena mau tidak mau, saya jadi ikut menonton sepenggal. Bukan karena tertarik memahami ekonomi global. Bukan juga karena ingin tercerahkan soal moneter dan geopolitik. Tapi siapa tahu mereka tiba-tiba baku hantam. Minimal ada hiburan kecil di tengah inflasi.
Sayangnya tidak pernah terjadi. Yang ada cuma saling potong omongan sambil senyum tipis. Bahasa mereka rumit, istilahnya berat, tapi ujung-ujungnya sama saja: rakyat diminta bersiap menghadapi keadaan.
Padahal rakyat dari dulu juga sudah terbiasa menghadapi keadaan. Padahal, semakin tinggi bahasa ekonomi dipakai, semakin terasa jauh pembahasannya dari hidup sehari-hari. Orang bicara pelemahan rupiah sambil ngopi 80 ribu. Menjelaskan penderitaan publik dari ruangan ber-AC dengan pencahayaan podcast warna biru ungu.
Sementara di luar sana, ada orang yang tetap bangun pagi, tetap jualan, tetap narik ojek, tetap kerja shift malam, meski nilai tukar sedang salto ke belakang.
Karena pada akhirnya hidup memang aneh.
Mau dolar naik, warung tetap buka. Minyak dunia naik, tetangga tetap ribut soal parkiran. Info ancaman krisis muncul tiap minggu, kita tetap beli kopi sachet dan nongkrong sambil ketawa.
Kadang saya merasa ekonomi makro itu seperti cuaca di televisi. Dibahas serius sekali, pakai peta, pakai panah, pakai warna merah menyala. Tapi setelah itu orang tetap keluar rumah, tetap kehujanan, lalu lanjut hidup seperti biasa.
Mungkin karena sebagian besar rakyat memang tidak punya kemewahan untuk panik terlalu lama.
Kalau orang bawah ikut stres memikirkan kurs dolar setiap hari, kapan sempat mikirin harga gas, uang kontrakan, cicilan motor, dan kuota internet?
Jadi ya sudah.
Biarkan para ekonom terus berdebat.
Biarkan mereka saling adu data, adu prediksi, adu istilah yang bahkan kadang sesama mereka sendiri tidak sepakat.
Kita cukup duduk santai saja.
Kopi.
Rokok.
Internet.
Dracin.
Kalaupun ekonomi benar runtuh, paling besok pagi kita tetap bangun, garuk-garuk badan, lalu bertanya:
“Hari ini makan apa?”.





