Akses Masuk

Silakan pilih jenis akses akun Anda untuk melanjutkan ke dasbor.

Akses Terbatas

Masukkan kata sandi pengelola untuk verifikasi.

“Aman?”: Cara Tanya Kabar Tanpa Tanya Kabar

- Penulis

Minggu, 24 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Orang bilang “lelaki tidak bercerita.” Kalau dipikir lagi, mungkin ada benarnya. Lelaki, apalagi dengan tongkrongannya, selalu punya cara tersendiri untuk berkomunikasi, bahkan cendrung absurd. Dari kode lirikan mata, menaikan kedua alis saat berpapasan, hingga bahasa kode yang maknanya sendiri susah didefinisikan. Satu kata yang paling sering saya dengar adalah “aman.” Bahkan saking absurdnya, jika kita lafalkan dengan tekanan berbeda, eh jadi pertanyaan. “Aman?” Nah, lebih absurdnya lagi, jawabannya juga “aman.”

Satu kata yang artinya bisa bermacam-macam. Saat jadi pertanyaan, bisa berarti ingin tahu kabar, bisa sekadar basa-basi, atau bisa juga bentuk kepedulian, tapi dengan gaya santai supaya tidak terlihat terlalu peduli. Nah, saat jadi jawaban, “aman” juga punya banyak arti. Artinya bisa kabar baik, tameng supaya tidak ditanya lebih jauh, atau yang lebih gawat, tanda kalau bukan hanya masalahnya yang gawat tapi cara menjelaskannya juga gawat.

Jawaban “aman” tak selalu berarti baik. Kadang kalau masalahnya terlalu kusut, bahkan cara menjelaskannya juga tidak ketemu. Saat tiba-tiba ditanya, malah jadinya bingung harus mulai dari mana dulu. Apalagi kalau semua urusan ada masalah. Urusan kerja, keluarga, keuangan, hubungan. Yang awalnya mau melepaskan masalah, eh, malah jadi masalah baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalau kita amati lagi hal ini, sesama teman lelaki kadang punya kegagapan saat harus menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Bukan karena tidak punya cerita, tapi karena cerita tertentu tidak selalu cocok keluar di tengah obrolan yang lima menit sebelumnya masih membahas motor, bahas Arsenal juara Liga Inggris, atau harga rokok. Maka dari situlah “aman” menjadi jalan tengah.

Bagi sebagian orang di tongkrongan, mengekspresikan perasaan dan pikiran terdalam tidak bisa di sembarang tempat dan waktu. Lelaki tentu juga punya perasaan, tapi sering dihantui pertimbangan-pertimbangan lain. Contohnya, si lawan bicara sudah siap mendengarkankah? Suasananya amankah? atau yang paling sering, kalau cerita ini jadi bahan ejekankah?

Ejekan, juga tidak bisa kita langsung anggap negatif. Bukan karena teman-temannya jahat, tapi biasanya bercanda memang jadi cara untuk mencairkan suasana dan kecanggungan.

Tapi, fenomena “aman” ini bukan berarti lelaki kurang maskulin karena terlalu pakai perasaan cuma buat cerita dan nongkrong. Juga bukan untuk menunjukan tongkrongan lelaki lebih spesial. Ini cuma gambaran gaya komunikasi yang kebetulan sering terjadi dalam pengamatan saya. Singkat, absurd, simple.

Berita Terkait

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?
Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong
Indomie sebagai Ideologi Nasional

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:02 WIB

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

“Aman?”: Cara Tanya Kabar Tanpa Tanya Kabar

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:04 WIB

Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:27 WIB

Indomie sebagai Ideologi Nasional

Omelan Terbaru

Receh Serius

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?

Kamis, 4 Jun 2026 - 00:02 WIB

Resah Berjamaah

Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Angkat Sampah Bersama

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:31 WIB

Negara Ribet

Ekonomi Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Katanya

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:01 WIB

Receh Serius

“Aman?”: Cara Tanya Kabar Tanpa Tanya Kabar

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

Receh Serius

Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:04 WIB