Orang bilang “lelaki tidak bercerita.” Kalau dipikir lagi, mungkin ada benarnya. Lelaki, apalagi dengan tongkrongannya, selalu punya cara tersendiri untuk berkomunikasi, bahkan cendrung absurd. Dari kode lirikan mata, menaikan kedua alis saat berpapasan, hingga bahasa kode yang maknanya sendiri susah didefinisikan. Satu kata yang paling sering saya dengar adalah “aman.” Bahkan saking absurdnya, jika kita lafalkan dengan tekanan berbeda, eh jadi pertanyaan. “Aman?” Nah, lebih absurdnya lagi, jawabannya juga “aman.”
Satu kata yang artinya bisa bermacam-macam. Saat jadi pertanyaan, bisa berarti ingin tahu kabar, bisa sekadar basa-basi, atau bisa juga bentuk kepedulian, tapi dengan gaya santai supaya tidak terlihat terlalu peduli. Nah, saat jadi jawaban, “aman” juga punya banyak arti. Artinya bisa kabar baik, tameng supaya tidak ditanya lebih jauh, atau yang lebih gawat, tanda kalau bukan hanya masalahnya yang gawat tapi cara menjelaskannya juga gawat.
Jawaban “aman” tak selalu berarti baik. Kadang kalau masalahnya terlalu kusut, bahkan cara menjelaskannya juga tidak ketemu. Saat tiba-tiba ditanya, malah jadinya bingung harus mulai dari mana dulu. Apalagi kalau semua urusan ada masalah. Urusan kerja, keluarga, keuangan, hubungan. Yang awalnya mau melepaskan masalah, eh, malah jadi masalah baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalau kita amati lagi hal ini, sesama teman lelaki kadang punya kegagapan saat harus menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Bukan karena tidak punya cerita, tapi karena cerita tertentu tidak selalu cocok keluar di tengah obrolan yang lima menit sebelumnya masih membahas motor, bahas Arsenal juara Liga Inggris, atau harga rokok. Maka dari situlah “aman” menjadi jalan tengah.
Bagi sebagian orang di tongkrongan, mengekspresikan perasaan dan pikiran terdalam tidak bisa di sembarang tempat dan waktu. Lelaki tentu juga punya perasaan, tapi sering dihantui pertimbangan-pertimbangan lain. Contohnya, si lawan bicara sudah siap mendengarkankah? Suasananya amankah? atau yang paling sering, kalau cerita ini jadi bahan ejekankah?
Ejekan, juga tidak bisa kita langsung anggap negatif. Bukan karena teman-temannya jahat, tapi biasanya bercanda memang jadi cara untuk mencairkan suasana dan kecanggungan.
Tapi, fenomena “aman” ini bukan berarti lelaki kurang maskulin karena terlalu pakai perasaan cuma buat cerita dan nongkrong. Juga bukan untuk menunjukan tongkrongan lelaki lebih spesial. Ini cuma gambaran gaya komunikasi yang kebetulan sering terjadi dalam pengamatan saya. Singkat, absurd, simple.





