Saya membaca tulisan Bagus Irawan yang berjudul Tak Ada Revolusi di Negeri Ini sampai habis. Lalu saya membacanya lagi. Saya sepakat pada diagnosisnya, tetapi saya belum sepakat pada prognosisnya.
Kita bertanya kapan revolusi datang, padahal proses menuju ke sana sudah dimulai.
Benar, rakyat sedang lelah. Benar bahwa media sosial sering mengubah kemarahan menjadi tontonan yang cepat datang dan cepat menghilang. Saya juga sepakat bahwa terlalu sederhana jika agama dijadikan penjelasan mengapa gerakan sosial di Indonesia belum melahirkan perubahan besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, apakah semua itu cukup untuk menyimpulkan bahwa revolusi tidak mungkin terjadi? Menurut saya, belum.
Barangkali perbedaannya terletak pada cara kita memahami revolusi. Kita terlalu sering membayangkannya sebagai ledakan: jutaan orang turun ke jalan, istana dikepung, atau sebuah rezim runtuh dalam hitungan hari.
Padahal revolusi bukan hanya peristiwa ketika kekuasaan berganti. Revolusi adalah proses yang berlangsung setiap hari di tengah masyarakat, ketika kesadaran tumbuh, organisasi bertahan, kebohongan penguasa didokumentasikan, dan orang mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Bung Karno pernah mengatakan bahwa “Revolusi belum selesai.” Tentu Bung Karno mengucapkannya dalam konteks historis yang berbeda. Namun ada satu gagasan yang tetap relevan: perubahan politik bukan pekerjaan satu momentum, melainkan proses yang terus diisi oleh rakyat.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya





