Akses Masuk

Silakan pilih jenis akses akun Anda untuk melanjutkan ke dasbor.

Akses Terbatas

Masukkan kata sandi pengelola untuk verifikasi.

Revolusi Bukan Ledakan, Ia Akumulasi

- Penulis

Sabtu, 27 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pola yang Sama

Sejarah memperlihatkan pola yang sama. Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, hingga Tunisia tidak lahir dari satu sebab tunggal. Semuanya merupakan pertemuan antara krisis, hilangnya legitimasi negara, retaknya elite, dan masyarakat yang perlahan membangun kesadaran.

Ada kelompok yang berharap krisis itu benar-benar terjadi, untuk revolusi Rupiah harus menyentuh Rp25.000, harga minyak dunia menembus 200 dolar, lalu rakyat baru bergerak.

Saya memahami logika itu, tetapi saya tidak ingin rakyat harus berharap pada bencana. Yang kehilangan pekerjaan, yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup adalah rakyat. Sejarah pun menunjukkan bahwa krisis ekonomi tidak selalu melahirkan pembebasan; tidak sedikit negara yang justru keluar dari krisis dengan pemerintahan yang lebih represif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalau perubahan hanya menunggu ekonomi ambruk, itu bukan strategi politik, melainkan menyerahkan nasib bangsa pada bencana. Berbeda jika memang itu tidak bisa kita atasi, lain hal. Maksud saya, lebih baik jangan, dari pada berharap ekonomi hancur.

Saya lebih tertarik pada jalan yang lain.

Theda Skocpol menunjukkan bahwa revolusi lahir ketika tekanan masyarakat bertemu dengan negara yang melemah dan elite yang kehilangan kesatuannya. Perubahan besar menjadi mungkin ketika kohesi kekuasaan mulai retak.

Untungnya, oligarki bukan keluarga harmonis. Mereka tampak rukun di depan kamera, tetapi sejarah menunjukkan bahwa sering “baku-hatam”. Mereka tidak digerakkan oleh idealisme, melainkan oleh kepentingan. Dan seperti semua persekutuan yang dibangun di atas kepentingan, keretakan hanya soal waktu.

Polemik Ibu Kota Nusantara, Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, hingga pengelolaan sumber daya alam menunjukkan bahwa  ada pertarungan kepentingan. Mereka terlihat kompak, tapi  ketika kepentingan bertabrakan, persatuan berubah menjadi perpecahan.

Berita Terkait

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?
“Aman?”: Cara Tanya Kabar Tanpa Tanya Kabar
Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong
Indomie sebagai Ideologi Nasional
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 16:21 WIB

Revolusi Bukan Ledakan, Ia Akumulasi

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:02 WIB

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

“Aman?”: Cara Tanya Kabar Tanpa Tanya Kabar

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:04 WIB

Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:27 WIB

Indomie sebagai Ideologi Nasional

Omelan Terbaru

Resah Berjamaah

Dari Ferry Irwandi ke Nabi Gen Z

Minggu, 28 Jun 2026 - 14:42 WIB

Receh Serius

Revolusi Bukan Ledakan, Ia Akumulasi

Sabtu, 27 Jun 2026 - 16:21 WIB

Ngomel Nasional

Tak Ada Revolusi di Negeri Ini

Sabtu, 27 Jun 2026 - 14:02 WIB

Receh Serius

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?

Kamis, 4 Jun 2026 - 00:02 WIB

Resah Berjamaah

Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Angkat Sampah Bersama

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:31 WIB