Pola yang Sama
Sejarah memperlihatkan pola yang sama. Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, hingga Tunisia tidak lahir dari satu sebab tunggal. Semuanya merupakan pertemuan antara krisis, hilangnya legitimasi negara, retaknya elite, dan masyarakat yang perlahan membangun kesadaran.
Ada kelompok yang berharap krisis itu benar-benar terjadi, untuk revolusi Rupiah harus menyentuh Rp25.000, harga minyak dunia menembus 200 dolar, lalu rakyat baru bergerak.
Saya memahami logika itu, tetapi saya tidak ingin rakyat harus berharap pada bencana. Yang kehilangan pekerjaan, yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup adalah rakyat. Sejarah pun menunjukkan bahwa krisis ekonomi tidak selalu melahirkan pembebasan; tidak sedikit negara yang justru keluar dari krisis dengan pemerintahan yang lebih represif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalau perubahan hanya menunggu ekonomi ambruk, itu bukan strategi politik, melainkan menyerahkan nasib bangsa pada bencana. Berbeda jika memang itu tidak bisa kita atasi, lain hal. Maksud saya, lebih baik jangan, dari pada berharap ekonomi hancur.
Saya lebih tertarik pada jalan yang lain.
Theda Skocpol menunjukkan bahwa revolusi lahir ketika tekanan masyarakat bertemu dengan negara yang melemah dan elite yang kehilangan kesatuannya. Perubahan besar menjadi mungkin ketika kohesi kekuasaan mulai retak.
Untungnya, oligarki bukan keluarga harmonis. Mereka tampak rukun di depan kamera, tetapi sejarah menunjukkan bahwa sering “baku-hatam”. Mereka tidak digerakkan oleh idealisme, melainkan oleh kepentingan. Dan seperti semua persekutuan yang dibangun di atas kepentingan, keretakan hanya soal waktu.
Polemik Ibu Kota Nusantara, Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, hingga pengelolaan sumber daya alam menunjukkan bahwa ada pertarungan kepentingan. Mereka terlihat kompak, tapi ketika kepentingan bertabrakan, persatuan berubah menjadi perpecahan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya





