Ruang Resah – Belakangan, saya mendengar satu istilah yang menarik sekaligus menimbulkan rasa penasaran: “Nabi Gen Z”. Istilah ini beredar dalam percakapan media sosial dan kerap dikaitkan dengan figur seperti Ferry Irwandi, sosok yang oleh sebagian anak muda dianggap mampu menjelaskan berbagai persoalan dengan “bahasa bayi” yang lebih dekat, lugas, dan mudah dipahami.
Lahirnya Nabi Gen Z di tengah banjir informasi.
Dari istilah itu, saya menangkap nada satire sebagai olok-olokan, tetapi juga mungkin sedikit pujian karena sosok yang disebut biasanya punya pengikut media sosial yang banyak dan pengaruh yang tidak kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam penggunaan istilah “nabi” di sini, tentu saja saya tidak sedang memakainya dalam pengertian agama. Istilah itu lebih saya pahami sebagai penyebutan untuk menggambarkan kemampuan seseorang dalam menarik simpati, menjelaskan bagaimana dunia bekerja, atau meyakinkan orang lain bahwa apa yang ia sampaikan layak untuk didengar dan diikuti.
Dalam kesempatan ini, saya bukan ingin menghakimi Ferry Irwandi, apalagi menebak-nebak apakah yang diperjuangkannya lahir dari ketulusan atau sekadar upaya membangun citra diri. Pertanyaan seperti itu mungkin menarik, tetapi mudah sekali membuat pembahasan berhenti pada urusan personal.
Bagi saya, Ferry Irwandi lebih menarik jika dijadikan pintu masuk untuk melihat fenomena yang lebih luas. Di tengah situasi banjir informasi seperti sekarang, dari sekian banyak pemengaruh atau influencer yang muncul di media sosial, sosok seperti Ferry bisa digandrungi dan menjadi sentral pembicaraan anak muda di dunia digital.
Karena itu, istilah “Nabi Gen Z” tidak harus selalu disandarkan pada satu sosok saja. Ia bisa diperluas untuk membaca kemunculan para pemengaruh yang menjadi semacam rujukan, junjungan, atau bahkan tempat menitipkan keresahan.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya





