Akses Masuk

Silakan pilih jenis akses akun Anda untuk melanjutkan ke dasbor.

Akses Terbatas

Masukkan kata sandi pengelola untuk verifikasi.

Dari Ferry Irwandi ke Nabi Gen Z

- Penulis

Minggu, 28 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ruang Resah – Belakangan, saya mendengar satu istilah yang menarik sekaligus menimbulkan rasa penasaran: “Nabi Gen Z”. Istilah ini beredar dalam percakapan media sosial dan kerap dikaitkan dengan figur seperti Ferry Irwandi, sosok yang oleh sebagian anak muda dianggap mampu menjelaskan berbagai persoalan dengan “bahasa bayi” yang lebih dekat, lugas, dan mudah dipahami.

Lahirnya Nabi Gen Z di tengah banjir informasi.

Dari istilah itu, saya menangkap nada satire sebagai olok-olokan, tetapi juga mungkin sedikit pujian karena sosok yang disebut biasanya punya pengikut media sosial yang banyak dan pengaruh yang tidak kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam penggunaan istilah “nabi” di sini, tentu saja saya tidak sedang memakainya dalam pengertian agama. Istilah itu lebih saya pahami sebagai penyebutan untuk menggambarkan kemampuan seseorang dalam menarik simpati, menjelaskan bagaimana dunia bekerja, atau meyakinkan orang lain bahwa apa yang ia sampaikan layak untuk didengar dan diikuti.

Dalam kesempatan ini, saya bukan ingin menghakimi Ferry Irwandi, apalagi menebak-nebak apakah yang diperjuangkannya lahir dari ketulusan atau sekadar upaya membangun citra diri. Pertanyaan seperti itu mungkin menarik, tetapi mudah sekali membuat pembahasan berhenti pada urusan personal.

Bagi saya, Ferry Irwandi lebih menarik jika dijadikan pintu masuk untuk melihat fenomena yang lebih luas. Di tengah situasi banjir informasi seperti sekarang, dari sekian banyak pemengaruh atau influencer yang muncul di media sosial, sosok seperti Ferry bisa digandrungi dan menjadi sentral pembicaraan anak muda di dunia digital.
Karena itu, istilah “Nabi Gen Z” tidak harus selalu disandarkan pada satu sosok saja. Ia bisa diperluas untuk membaca kemunculan para pemengaruh yang menjadi semacam rujukan, junjungan, atau bahkan tempat menitipkan keresahan.

Berita Terkait

Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Angkat Sampah Bersama
Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 14:42 WIB

Dari Ferry Irwandi ke Nabi Gen Z

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:31 WIB

Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Angkat Sampah Bersama

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:04 WIB

Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong

Omelan Terbaru

Resah Berjamaah

Dari Ferry Irwandi ke Nabi Gen Z

Minggu, 28 Jun 2026 - 14:42 WIB

Receh Serius

Revolusi Bukan Ledakan, Ia Akumulasi

Sabtu, 27 Jun 2026 - 16:21 WIB

Ngomel Nasional

Tak Ada Revolusi di Negeri Ini

Sabtu, 27 Jun 2026 - 14:02 WIB

Receh Serius

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?

Kamis, 4 Jun 2026 - 00:02 WIB

Resah Berjamaah

Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Angkat Sampah Bersama

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:31 WIB