Jadi, persoalan utama dari fenomena Nabi Gen Z bukan pada hadirnya figur tersebut, tapi pada apakah figur itu membuat cara berpikir semakin terdistribusi atau justru terpusat. Jika kehadirannya membuat orang lebih berani membaca, bertanya, meragukan, dan berpendapat sendiri, maka ia berperan positif dalam percakapan publik. Namun jika kehadirannya hanya menuntun pengikut ke suatu kesimpulan, berakhir sebagai pengutip kalimat, dan membela nabi-nabi mereka tanpa menguji gagasannya, maka yang lahir bukan masyarakat kritis, tapi bentuk patronase baru di ruang digital.
Agar Nalar Terus Nyala
Fenomena Nabi Gen Z adalah gejala dari kerumitan bagaimana dunia modern bekerja dan banyaknya pandangan dalam melihat dunia. Nabi-nabi Gen Z merayap di antara segala hal itu sampai ke pucuk dunia digital. Mereka mencuri perhatian dengan kelihaian menerjemahkan dunia yang rumit sehingga mudah dikonsumsi oleh generasi yang candu akan sesuatu yang instan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ditambah dengan otoritas yang jatuh bangun mengejar dunia digital yang terlalu cepat bergerak maju, otoritas lama sekuat tenaga untuk menyesuaikan diri tapi selalu gagal. Pemerintah tidak mampu menjelaskan betapa penting program andalan mereka kepada rakyat, dan berakhir menjadi meme di sosial media. Akademia yang sibuk bertarung di dunia yang mereka ciptakan sendiri, bertanding-tandingan dengan seminar, forum akademis, dan berlomba masuk ke jurnal-jurnal bereputasi. Menciptakan jarak dengan percakapan sehari-hari. Di sisi lain, keresahan masyarakat bergerak cepat meninggalkan yang lain.
Bukan melarang orang untuk mengikuti dan mengonsumsi informasi yang diproduksi oleh para nabi-nabi Gen Z ini, namun gagasan mereka harus tetap diuji dengan kritis dan tidak boleh menciptakan patronase baru di dunia digital. Dengan mengonsumsi konten dari mereka, yang diharapkan adalah munculnya kebiasaan untuk membentuk instrumen berpikir yang lebih maju daripada hanya mengutip-kutip perkataan figur digital mereka saja.
Dari segala hal tersebut, yang harus kita ketengahkan dalam fokus pengamatan kita bukanlah nabi-nabi Gen Z ini, tapi bagaimana cara kita membentuk sistem sosial yang mampu mendistribusikan instrumen berpikir ini ke seluruh penjuru, untuk menyiapkan modal dalam menghadapi era digital seperti sekarang.





