Belakangan ini saya sering memperhatikan sesuatu yang agak aneh. Makin bertambah umur, makin banyak orang yang kita kenal. Kontak di HP bertambah, grup WhatsApp bertambah, followers bertambah, bahkan lingkaran pertemanan juga terasa makin luas. Kalau ukuran hubungan dilihat dari angka, harusnya kita semakin kaya.
Tapi entah kenapa, banyak orang justru merasa semakin miskin. Miskin tempat bercerita, miskin kedekatan, dan miskin perasaan dipahami.
Kadang saya mikir, kapan terakhir kali kita benar-benar punya teman yang bisa dihubungi tanpa perlu mikir dulu?.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Teman yang ketika ditelepon jam sebelas malam tidak membuat kita merasa sungkan. Teman yang tidak harus selalu punya solusi, tapi cukup mau mendengarkan sampai cerita kita selesai.
Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang teman lama. Obrolannya sebenarnya biasa saja. Tentang pekerjaan, keluarga, dan hidup yang ternyata makin rumit setelah usia kepala dua lewat. Di tengah obrolan itu dia bilang sesuatu yang terus teringat sampai sekarang.
“Lucunya, sekarang aku kenal banyak orang. Tapi kalau lagi benar-benar capek, aku nggak tahu harus cerita ke siapa.”
Saya cuma ketawa kecil waktu mendengarnya. Bukan karena lucu, tapi karena saya paham maksudnya. Dan mungkin banyak dari kalian juga paham.
Karena semakin ke sini, rasanya kita memang hidup di zaman yang penuh hubungan, tapi miskin kedekatan.
Dulu saya pikir kesepian itu urusan orang yang tidak punya teman. Sekarang saya mulai ragu. Karena saya melihat banyak orang yang lingkaran sosialnya ramai, tetapi hidupnya tetap terasa sepi.
Kita nongkrong hampir setiap hari. Grup WhatsApp tidak pernah sepi notifikasi. Media sosial selalu ramai. Kita saling kirim meme, saling balas story, bahkan kadang lebih tahu aktivitas teman daripada jadwal makan sendiri. Tapi ketika hidup sedang benar-benar berantakan, tidak banyak yang bisa kita hubungi tanpa merasa sungkan. Dan ternyata bukan cuma saya yang melihat itu.
Semakin sering saya ngobrol dengan teman-teman, semakin sering saya mendengar keluhan yang mirip. Ada yang merasa punya banyak kenalan tapi sedikit sahabat. Ada yang merasa selalu dikelilingi orang, tapi tetap kesepian. Ada juga yang bilang hidupnya ramai, tapi tidak tahu harus pulang ke siapa ketika sedang lelah.
Lawaknya, hampir semua kitamengalaminya. Tapi jarang ada yang membicarakannya.
Mungkin karena kita hidup di zaman yang menganggap kesepian sebagai urusan pribadi. Padahal jangan-jangan ini bukan masalah individu. Jangan-jangan ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi pada cara kita membangun hubungan.
Karena kalau dipikir-pikir, kondisi kita hari ini memang aneh.
Secara teknologi, manusia sedang berada di titik paling terhubung sepanjang sejarah. Kalau kangen tinggal video call. Kalau mau ngobrol tinggal kirim pesan. Kalau mau tahu kabar seseorang tinggal buka media sosial. Pokoknya semua serba dekat.
Tapi kenapa rasa dekat justru terasa semakin jauh?.
Lawaknya, hari ini kita bisa tahu teman kita sedang ngopi di mana, sedang makan apa, atau sedang jalan sama siapa. Tapi kita sering tidak tahu apakah dia sedang baik-baik saja atau tidak.
Kita tahu aktivitasnya – Tapi tidak tahu kegelisahannya.
Kita tahu fotonya – Tapi tidak tahu isi kepalanya.
Saya merasa media sosial membuat kita melihat semakin banyak kehidupan orang lain, tetapi memahami semakin sedikit manusia. Kita sibuk mengikuti kabar satu sama lain, tetapi semakin jarang benar-benar hadir untuk satu sama lain.
Dan mungkin di situlah kontradiksi zaman kita.
Semakin mudah terhubung, semakin sulit terikat.
Semakin banyak hubungan, semakin sedikit kedekatan.
Semakin ramai, semakin kosong.
Dulu saya pikir perasaan seperti ini cuma kegelisahan pribadi.
Sampai suatu hari saya membaca pemikiran Zygmunt Bauman.
Halaman : 1 2 Selanjutnya





