Awalnya saya mengira teorinya pasti rumit. Nama filsuf dan sosiolog biasanya memang sering bikin orang langsung mengantuk sebelum membaca. Tapi ternyata yang dia bicarakan justru sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Bauman bilang kehidupan modern hari ini semakin cair. Awalnya saya tidak terlalu paham. Tapi makin ke sini saya mulai mengerti. Coba lihat hidup kita sekarang. Pekerjaan bisa berubah kapan saja. Tempat tinggal bisa berpindah kapan saja. Lingkungan pergaulan juga berganti dengan cepat. Hubungan antarmanusia akhirnya ikut menjadi cair. Kenalan makin gampang, dekat makin cepat, tapi hilang juga makin cepat.
Kadang tanpa pertengkaran. Tanpa konflik. Tanpa drama besar. Tahu-tahu asing saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya rasa hampir semua orang pernah mengalaminya. Dulu ngobrol setiap malam, tukar cerita setiap hari, bahkan saling tahu masalah hidup masing-masing. Lalu beberapa tahun kemudian, mengirim pesan saja terasa canggung. Bukan karena ada masalah. Cuma karena hubungan itu pelan-pelan menghilang.
Mungkin karena kita terlalu sibuk. Mungkin karena hidup bergerak terlalu cepat. Atau mungkin karena kita memang hidup dalam budaya yang selalu menawarkan hubungan baru sebelum sempat merawat hubungan yang lama.
Hari ini kita diajarkan memperluas jaringan, menambah relasi, dan memperbanyak koneksi. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi kadang saya merasa kita terlalu sibuk mencari orang baru sampai lupa menjaga orang-orang yang selama ini ada.
Kita rajin membangun networking, tapi lupa membangun kedekatan. Kita pandai memperkenalkan diri, tapi mulai kesulitan membuka hati. Kita tahu cara menambah koneksi di media sosial, tapi makin jarang punya waktu untuk sekadar menelepon teman lama dan bertanya, “Kamu baik-baik saja?”.
Dan mungkin itu sebabnya banyak orang merasa lelah. Bukan karena tidak punya teman. Bukan karena tidak punya komunitas. Tapi karena terlalu lama hidup di tengah hubungan yang ramai tanpa benar-benar merasa dekat dengan siapa pun.
Kadang saya rindu hal-hal sederhana. Duduk di warung kopi tanpa buru-buru. Ngobrol panjang tanpa melihat notifikasi. Mendengar cerita teman tanpa sibuk memikirkan balasan. Tidak perlu terlihat sukses. Tidak perlu terlihat menarik. Tidak perlu terlihat baik-baik saja. Cuma jadi manusia saja.
Karena makin ke sini saya sadar, manusia sebenarnya tidak terlalu membutuhkan keramaian. Manusia membutuhkan tempat untuk pulang. Tempat di mana ia bisa bercerita tanpa takut dihakimi. Tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura kuat. Tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Dan mungkin itu sebabnya di zaman ketika semua orang sibuk memperluas jaringan, yang paling langka justru kedekatan yang tulus.
Karena pada akhirnya, manusia tidak pernah benar-benar membutuhkan seribu orang untuk mengenalnya. Kadang kita hanya membutuhkan satu orang yang mau mendengarkan cerita kita sampai selesai.
Halaman : 1 2





