Akses Masuk

Silakan pilih jenis akses akun Anda untuk melanjutkan ke dasbor.

Akses Terbatas

Masukkan kata sandi pengelola untuk verifikasi.

Indomie sebagai Ideologi Nasional

- Penulis

Rabu, 20 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di negeri yang terlalu sering gagal memberi kepastian, satu hal justru selalu hadir dengan keyakinan hampir religius: Indomie.

Ketika harga kebutuhan pokok naik, pekerjaan makin tidak pasti, dan masa depan terasa seperti lotere yang hanya dimenangkan segelintir orang, rakyat menemukan satu bentuk kestabilan paling sederhana: air panas, bumbu bubuk, minyak bawang, dan rasa kenyang yang setidaknya bisa menipu lapar untuk beberapa jam.

Lucu sekaligus tragis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Negara bicara bonus demografi, hilirisasi, visi emas, transformasi digital, tetapi di dapur kos, kontrakan sempit, mess buruh, sampai di pos ronda, yang paling konsisten menyelamatkan rakyat justru mi instan.

Ekonomi mungkin terasa baik-baik saja di elite, padahal, rakyat sudah cerdas, bahkan menciptakan teori bertahan hidupnya sendiri. Dompet tipis? Mi dulu. Gaji telat? Mi lagi. Akhir bulan? Kreativitas meningkat: telur setengah, cabe rawit, kuah diperbanyak, kenyang dipaksakan.

Rakyat diajari narasi optimisme, tetapi praktik hidup sehari-hari mengajarkan kalkulasi penderitaan.

Kita sering bercanda: “Kalau belum makan mi belum Indonesia.” Padahal di balik humor itu ada pertanyaan serius: mengapa makanan darurat berubah menjadi budaya permanen?

Sekarang orang semakin sulit punya rumah, pendidikan terasa semakin jauh, gaji gitu-gitu aja, harga makin melunjak, dan minyak wangi bermerek berubah menjadi molto dikasih air,  mi instan adalah pilihan yang masuk akal.

Inilah luar biasanya Indonesia, rakyat dipaksa tahan banting, lalu ketahanan itu dipuji sebagai karakter nasional. Seolah kemampuan bertahan hidup lebih penting daripada hak untuk hidup layak.

Mungkin karena itu mi instan terasa sangat Indonesia. Sederhana, murah, fleksibel, tahan krisis dan diam-diam menyimpan cerita getir tentang bangsa yang terlalu sering meminta rakyat beradaptasi, sementara mereka yang berkuasa jarang dipaksa bertanggung jawab.

Di negeri ini, ideologi paling nyata kadang bukan yang tertulis di pidato atau spanduk politik.

Melainkan semangkuk mi di malam hari, ketika rakyat kembali belajar menerima keadaan sambil bercanda agar tidak terlalu marah.

Berita Terkait

Revolusi Bukan Ledakan, Ia Akumulasi
Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?
“Aman?”: Cara Tanya Kabar Tanpa Tanya Kabar
Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong
Semua isi tulisan adalah tanggung jawab penulis.

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 16:21 WIB

Revolusi Bukan Ledakan, Ia Akumulasi

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:02 WIB

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

“Aman?”: Cara Tanya Kabar Tanpa Tanya Kabar

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:04 WIB

Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:27 WIB

Indomie sebagai Ideologi Nasional

Omelan Terbaru

Resah Berjamaah

Dari Ferry Irwandi ke Nabi Gen Z

Minggu, 28 Jun 2026 - 14:42 WIB

Receh Serius

Revolusi Bukan Ledakan, Ia Akumulasi

Sabtu, 27 Jun 2026 - 16:21 WIB

Ngomel Nasional

Tak Ada Revolusi di Negeri Ini

Sabtu, 27 Jun 2026 - 14:02 WIB

Receh Serius

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?

Kamis, 4 Jun 2026 - 00:02 WIB

Resah Berjamaah

Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Angkat Sampah Bersama

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:31 WIB