Sering sekali kita mendengar lelucon dari pejabat. Anehnya, kita tidak cuma tertawa, tapi juga ingin muntah.
Masalahnya bukan karena humornya bagus, melainkan karena yang dijadikan bahan candaan adalah keresahan rakyat sendiri.
Yang terbaru tentu saja pernyataan Presiden soal nilai rupiah yang terus melemah. Katanya, tidak perlu khawatir selama Menteri Keuangan masih bisa tersenyum, semua aman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Presiden juga menambahkan bahwa orang desa tidak memakai dollar, jadi tidak perlu ikut cemas.
Entah apa dosa bangsa ini sampai punya presiden yang begitu gemar bercanda di tengah situasi yang bikin rakyat deg-degan.
Mungkin karena grup lawak sudah banyak bubar, sehingga panggung komedi akhirnya diambil alih pejabat negara.
Atau mungkin ini memang hukuman kolektif karena kita terlalu sering memilih pemimpin berdasarkan joget TikTok dan gemoy-gemoy politik, bukan keseriusan berpikir.
Apa pun alasannya, faktanya hari ini rakyat bukan cuma punya presiden yang gemoy, tapi juga penuh punchline.
Padahal persoalan jatuhnya rupiah bukan perkara receh.
Ini bukan sekadar angka di layar monitor bank atau bahan diskusi ekonom di televisi.
Dampaknya nyata sampai ke warung kecil, sawah, dapur rumah tangga, bahkan kantong kalian yang isinya bahkan tak bisa beli sebungkus rokok ilegal.
Lalu benarkah masyarakat desa tidak terdampak karena tidak memegang dollar?
Justru itu lucunya. Orang desa memang tidak belanja pakai dollar, tapi semua kebutuhan hidup mereka ikut bergerak mengikuti dollar.
Pupuk misalnya. Bahan bakunya banyak bergantung pada impor dan industri energi seperti gas. Distribusinya memakai BBM. Ketika dollar naik, biaya impor ikut naik, ongkos distribusi ikut naik, dan ujung-ujungnya harga pupuk juga naik.
Petani yang tidak pernah melihat bentuk fisik dollar tetap dipaksa menanggung akibatnya.
Belum lagi solar untuk mesin pertanian, suku cadang alat tani, pakan ternak, obat-obatan, sampai harga sembako yang perlahan ikut merangkak naik.
Jadi walaupun orang desa tidak punya tabungan dollar, mereka tetap hidup di dalam sistem ekonomi yang napasnya masih tergantung pada dollar.
Rakyat memang tidak main saham di Wall Street, tapi harga cabai di pasar tetap bisa bikin jantung hampir copot.
Kadang yang membuat rakyat makin cemas bukan cuma keadaan ekonomi, tetapi cara pemimpin menjelaskan keadaan itu.
Karena ketika keresahan publik dijawab dengan guyonan, rakyat jadi bingung: ini negara sedang menghadapi masalah, atau sedang latihan stand up comedy nasional?
Rakyat sebenarnya tidak butuh pemimpin yang selalu terlihat tenang sambil tersenyum di depan kamera. Rakyat butuh penjelasan yang jujur, sikap yang serius, dan kebijakan yang masuk akal.
Sebab bagi warga kecil, kurs dollar bukan soal teori ekonomi.
Ia hadir dalam bentuk harga beras yang naik diam-diam, ongkos hidup yang makin sesak, dan semua itu tidak bisa dijawab dengan joget dan candaan yang bikin muntah.

