Keadaan ini juga hasil dari kegagapan otoritas konvensional dalam menghadapi era sekarang. Otoritas tidak berhasil hadir di tengah-tengah perbincangan pemuda, sebab otoritas lama masih menggunakan pendekatan konvensional dalam menarasikan gagasan-gagasannya. Narasi-narasi yang diberikan mudah terdistorsi dan hanyut dalam arus besar informasi yang diatur algoritma. Sedangkan percakapan tetap terus berlanjut dengan atau tanpa otoritas lama.
Sebagai contoh, keluhan yang disampaikan oleh warga di ruang digital tidak cukup hanya benar, tapi juga harus viral agar dianggap oleh pemegang otoritas. Hal ini membuat jarak antara masyarakat dan otoritas lama menjadi semakin jauh dan menimbulkan rasa ketidakpercayaan atas kinerja mereka. Begitu juga dengan kampus dan cendekiawan, mereka yang sebenarnya memiliki banyak pengetahuan dan kebijaksanaan sering kali kalah cepat dalam merespons. Pengetahuan dan kebijaksanaan mereka sering kali berakhir di ruang-ruang kelas, seminar, jurnal dan forum-forum akademis saja, yang juga berjarak dengan percakapan sehari-hari. Di sisi lain, keresahan anak muda bergerak cepat di kanal informasi lain yang berwujud potongan video, siniar, utas X, dan kolom komentar.
Pikiran yang terdistribusi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di era digital, informasi dan akses kepadanya sangatlah mudah. Artikel, video, siniar, buku tersedia di mana-mana. Namun dengan keadaan seperti itu, apakah serta-merta terbentuk masyarakat yang mampu berpikir kritis dan meningkatkan kebijaksanaan masyarakat umum?
Yuval Noah Harari mengkritik keadaan itu, yaitu anggapan bahwa informasi pada dasarnya selalu baik dan semakin banyak informasi maka semakin baik pula keadaan manusia. Harari mengingatkan bahwa sekalipun manusia mampu menganalisis informasi dan menemukan kebenaran penting, hal itu “does not guarantee we will use the resulting capabilities wisely.” Dengan kata lain, masalah kita bukan hanya soal akses informasi, tetapi juga kemampuan mengolah informasi itu menjadi cara berpikir yang matang dan menjadikannya kebijaksanaan.
Namun, daripada menambah kemampuan mengolah informasi orang-orang akan cenderung memilih jalan pintas lewat tokoh atau sosok yang mampu menafsirkan banjir informasi itu menjadi sesuatu yang lebih mudah dikunyah. Keadaan inilah yang membuat nabi baru ini muncul sebagai sumber tafsir dunia banjir informasi sekarang.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya





