Sosok pencerah terbukti masih penting di era informasi seperti sekarang. Ketika dunia terasa terlalu rumit, orang mencari seseorang yang mampu menjelaskannya dengan bahasa yang lebih sederhana. Mereka yang mampu menyederhanakan informasi, membangun narasi, dan berkisah dengan meyakinkan, punya potensi untuk menjadi nabi-nabi baru di era digital.
Namun kemampuan menyederhanakan dunia saja tidak cukup. Para nabi baru ini juga biasanya memiliki kepekaan terhadap keresahan yang dialami para pengikutnya. Mereka menangkap rasa marah, kecewa, bingung, atau lelah yang beredar di tengah masyarakat, lalu mengubahnya menjadi bahan pembicaraan yang terasa dekat dengan pengalaman banyak orang.
Salah satu contohnya adalah keresahan tentang ketidakadilan dan aspirasi yang tidak tertampung oleh pemerintah. Ketika keresahan semacam itu diangkat, sang nabi digital hadir seolah-olah menjadi penyambung lidah para pengikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di titik ini, menarik untuk melihat bahwa pengaruh seorang figur tidak hanya lahir dari kepintarannya bernarasi. Tapi juga lahir dari kemampuannya membaca luka masyarakat yang sedang menganga, lalu menyulamnya menjadi bahasa yang bisa dibagikan, dikutip, dipotong menjadi video pendek, dan disebarkan kembali oleh para pengikutnya.
Fenomena yang disebutkan di atas bisa jadi akibat putusnya relasi antara otoritas konvensional seperti negara dengan masyarakatnya, ataupun relasi sosial organik konvensional seperti tokoh agama, atau cendekiawan dengan pengikutnya.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya





