Pertanyaan selanjutnya adalah apakah mengikuti figur adalah suatu yang salah? bukankah dari sepanjang sejarah perkembangan peradaban manusia, selalu ada sosok figur dan pengikutnya, bahkan yang membentuk peradaban besar yang nyata berguna bagi perkembangan peradaban manusia. Singkatnya, sejarah manusia memang sering bergerak bersama figur-figur tertentu. Ada guru, pemimpin, pemikir, tokoh agama, aktivis, dan berbagai sosok lain yang memberi arah pada zamannya. Dalam batas tertentu, mengikuti figur bukanlah sesuatu yang salah.
Tapi permasalahan akan muncul jika para pengikutnya tidak lagi menguji gagasan dan argumentasi nabi-nabi baru mereka, sehingga ia berhenti berpikir setelah nabi-nabi mereka berbicara. Ketiadaan sikap kritis dalam berpatron ke figur-figur ini akan menghasilkan pendistribusian informasi yang tidak sehat, kemudian tidak akan meningkatkan percakapan dan dialektika.
Setelah kita mengetahui bahwa manusia memang perlu figur yang diikuti, namun kita juga tahu bahwa patronase tanpa sikap kritis adalah hal yang membahayakan, apa yang perlu kita lakukan?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Figur pemengaruh dan otoritas baru lainnya bukan hanya memberikan “informasi siap saji” tapi juga harus memberikan instrumen dan kebiasaan untuk modal berpikir kritis seperti kebiasaan bertanya, meragukan, membandingkan sumber, dan lain-lainnya.
Jika kita sudah punya tolok ukur itu, kita jadi punya ukuran untuk menilai figur digital, bukan hanya dari popularitasnya, tapi nilai dari dampaknya. Apakah setelah mendengarnya, orang jadi ingin membaca lagi? apakah orang jadi berani bertanya? apakah orang jadi lebih mampu menyusun pendapat sendiri? atau justru hanya mengutip-kutip kalimat figurnya saja?
Figur digital yang sehat bukanlah yang membuat pengikutnya terus bergantung dengan suaranya, tapi membuat orang perlahan-lahan mampu berpikir tanpa harus selalu meminjam suara sang figur digital.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya





