Aksi Jalanan ke Konten
Apalagi kemarahan publik hari ini mengalami pergeseran arena yang difasilitasi oleh media sosial. Medsos mengonversi aksi jalanan menjadi sekadar konten. Orang marah tidak lagi turun ke jalan, cukup melampiaskannya di kolom komentar, unggahan, atau tagar yang ramai sesaat. Kemarahan menjadi mudah diproduksi, tetapi juga mudah dikonsumsi. Cepat meledak, cepat pula menguap.
Secara taktis, media sosial sebetulnya memiliki nilai strategis yang besar. Platform ini bisa menjadi sarana yang efektif untuk merawat isu, mengonsolidasikan dukungan, memperluas jangkauan informasi, dan menjaga agar sebuah narasi tetap hidup dalam ingatan publik. Dalam banyak kasus, media sosial bahkan mampu menjadi ruang pengorganisasian yang murah, cepat, dan relatif sulit dikendalikan. Media sosial bisa menjadi bahan bakar awal sebuah gerakan. Algoritma dapat digunakan untuk menjaga ritme percakapan agar tetap stabil dan tetap terhubung dengan khalayak.
Masalahnya, atensi publik hari ini adalah komoditas yang sangat rapuh. Mudah direbut, mudah dialihkan, dan mudah diperdagangkan. Selalu saja, dan ini sudah menjadi pola yang lazim, muncul skandal baru yang diledakkan (di-blow up) secara besar-besaran. Entah sengaja atau tidak, isu yang semula menyatukan kemarahan publik perlahan tenggelam. Linimasa berubah arah. Percakapan berganti topik. Publik berbondong-bondong mengejar isu berikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, kemarahan gagal bertransformasi menjadi gerakan, dan hanya berputar sebagai siklus atensi: viral, ramai, marah, lalu hilang. Besok muncul isu baru, kemarahan baru, dan keramaian baru. Begitu seterusnya. Yang tersisa hanyalah jejak digital, sementara masalah yang memicu kemarahan itu tetap jalan di tempat.
Revolusi Bukan Budaya Kita
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya





