Revolusi Bukan Budaya Kita
Dengan berat hati mesti dikatakan, revolusi adalah kata yang tidak pantas bagi karakter orang Indonesia. Tidak ada sejarah gerakan revolusi di negeri ini. 98 jelas jauh dari spirit revolusi, reformasi atau restorasi sepertinya lebih tepat. Ia juga semacam ilusi yang dibiuskan oleh elite ke kelas bawah. Mereka (red: elite oligarki) tentu sudah paham betul watak masyarakat dan mempersiapkan macam-macam strategi untuk melunakkan gelombang aksi. Hari ini kita lihat strategi itu bekerja. Sesama rakyat dibentur, sesama mahasiswa dilaga. Bayangkan betapa pecahnya gelak tawa mereka sambil ongkang-ongkang menonton piala dunia. Pedih memang.
Ironisnya, kita mesti akui bahwa revolusi bukan budaya kita. Budaya kita ialah menjilat. Budaya kita, sekali lagi, ialah hipokrasi. Karenanya, sia-sia belaka menaruh asa terlalu dalam terhadap aksi-aksi itu, ujungnya sudah tertebak: berakhir pilu. Kurang tragis apa tragedi tewasnya Affan, Agustus silam. Sesaat saja kemarahan publik mencuat, setelah itu barisan buyar seperti abu di atas tanggul.
Sangat kontras misalnya kalau kita bandingkan dengan tragedi bakar diri Bouazizi di Tunisia, Desember 2010, yang kemudian memicu ledakan revolusi yang mendepak Ben Ali dari tahtanya, Januari 2011. Sebulan sahaja rentangnya, rezim otoriter dapat digilas. Akhirnya kita bertanya, tragedi tragis seperti apakah yang mampu menggerakkan massa rakyat? Dengan darah dan air mata mana lagi dapat menyadarkan nurani kita?. Kesudahannya, mungkin puisi Gibran (yang ada Kahlil-nya) ini dapat menelanjangi nasib tragis kita:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku telah bernyanyi untukmu
Tapi kau tidak juga menari
Aku telah menangis di depanmu
Tapi kau tidak juga mengerti
Haruskah aku menangis sambil bernyanyi
Barangkali demikianlah keadaan kita hari ini. Kemarahan telah jerih disuarakan, ketidakadilan jadi dagelan sehari-hari, bahkan tangisan rakyat nyaring di mana-mana. Namun, semuanya berlalu begitu saja. Publik sebentar marah, sebentar heboh, lalu kembali abai, sibuk dengan hajat masing-masing. Yang bergerak tetap segelintir, yang menonton tetap mayoritas. Dan revolusi, sekali lagi, tertunda entah sampai kapan.





