Akses Masuk

Silakan pilih jenis akses akun Anda untuk melanjutkan ke dasbor.

Akses Terbatas

Masukkan kata sandi pengelola untuk verifikasi.

Tak Ada Revolusi di Negeri Ini

- Penulis

Sabtu, 27 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Revolusi Bukan Budaya Kita

Dengan berat hati mesti dikatakan, revolusi adalah kata yang tidak pantas bagi karakter orang Indonesia. Tidak ada sejarah gerakan revolusi di negeri ini. 98 jelas jauh dari spirit revolusi, reformasi atau restorasi sepertinya lebih tepat. Ia juga semacam ilusi yang dibiuskan oleh elite ke kelas bawah. Mereka (red: elite oligarki) tentu sudah paham betul watak masyarakat dan mempersiapkan macam-macam strategi untuk melunakkan gelombang aksi. Hari ini kita lihat strategi itu bekerja. Sesama rakyat dibentur, sesama mahasiswa dilaga. Bayangkan betapa pecahnya gelak tawa mereka sambil ongkang-ongkang menonton piala dunia. Pedih memang.

Ironisnya, kita mesti akui bahwa revolusi bukan budaya kita. Budaya kita ialah menjilat. Budaya kita, sekali lagi, ialah hipokrasi. Karenanya, sia-sia belaka menaruh asa terlalu dalam terhadap aksi-aksi itu, ujungnya sudah tertebak: berakhir pilu. Kurang tragis apa tragedi tewasnya Affan, Agustus silam. Sesaat saja kemarahan publik mencuat, setelah itu barisan buyar seperti abu di atas tanggul.

Sangat kontras misalnya kalau kita bandingkan dengan tragedi bakar diri Bouazizi di Tunisia, Desember 2010, yang kemudian memicu ledakan revolusi yang mendepak Ben Ali dari tahtanya, Januari 2011. Sebulan sahaja rentangnya, rezim otoriter dapat digilas. Akhirnya kita bertanya, tragedi tragis seperti apakah yang mampu menggerakkan massa rakyat? Dengan darah dan air mata mana lagi dapat menyadarkan nurani kita?. Kesudahannya, mungkin puisi Gibran (yang ada Kahlil-nya) ini dapat menelanjangi nasib tragis kita:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku telah bernyanyi untukmu
Tapi kau tidak juga menari
Aku telah menangis di depanmu
Tapi kau tidak juga mengerti
Haruskah aku menangis sambil bernyanyi

Barangkali demikianlah keadaan kita hari ini. Kemarahan telah jerih disuarakan, ketidakadilan jadi dagelan sehari-hari, bahkan tangisan rakyat nyaring di mana-mana. Namun, semuanya berlalu begitu saja. Publik sebentar marah, sebentar heboh, lalu kembali abai, sibuk dengan hajat masing-masing. Yang bergerak tetap segelintir, yang menonton tetap mayoritas. Dan revolusi, sekali lagi, tertunda entah sampai kapan.

Berita Terkait

Ketika Keresahan Publik Dijawab dengan Guyonan
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 14:02 WIB

Tak Ada Revolusi di Negeri Ini

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:32 WIB

Ketika Keresahan Publik Dijawab dengan Guyonan

Omelan Terbaru

Resah Berjamaah

Dari Ferry Irwandi ke Nabi Gen Z

Minggu, 28 Jun 2026 - 14:42 WIB

Receh Serius

Revolusi Bukan Ledakan, Ia Akumulasi

Sabtu, 27 Jun 2026 - 16:21 WIB

Ngomel Nasional

Tak Ada Revolusi di Negeri Ini

Sabtu, 27 Jun 2026 - 14:02 WIB

Receh Serius

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?

Kamis, 4 Jun 2026 - 00:02 WIB

Resah Berjamaah

Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Angkat Sampah Bersama

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:31 WIB