Akses Masuk

Silakan pilih jenis akses akun Anda untuk melanjutkan ke dasbor.

Akses Terbatas

Masukkan kata sandi pengelola untuk verifikasi.

Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong

- Penulis

Jumat, 22 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Belakangan ini saya mulai merasa ada yang aneh sama hidup kita. Entah mungkin cuma saya, atau mungkin kalian juga mulai ngerasain hal yang sama: makin susah cari tempat bercerita.

Bukan tempat ngobrol ya. Itu beda.

Kalau cuma ngobrol, hari ini kita gampang sekali. Grup WhatsApp bunyi terus. Instagram ramai.  Pokoknya Media Sosial ribut tiap hari, semuanya penuh suara manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tapi tempat untuk benar-benar cerita rasanya makin langka.

Lawak, ini terjadi justru ketika manusia sedang paling terkoneksi dalam sejarah.

Dulu orang susah untuk komunikasi karena jarak. Sekarang semua serba dekat. Tinggal pencet layar, orang langsung muncul. Tapi entah kenapa, banyak dari kita malah makin merasa sendirian.

Kadang saya mikir, jangan-jangan kita ini sebenarnya bukan kekurangan teman. Kita cuma kekurangan hubungan yang benar-benar tulus.

Karena hari ini kebanyakan hubungan cuma berhenti di permukaan, cuma karena ada keperluan.

Kita tahu orang lagi nongkrong di mana. Tahu dia makan apa. Tahu dia habis jalan sama siapa. Tapi kita tidak tahu isi kepalanya lagi berantakan atau tidak.

Dan saya rasa itu bukan salah individu sepenuhnya. Ada sesuatu dari cara hidup modern yang bikin manusia pelan-pelan kehilangan ruang emosional.

Kita hidup di zaman yang aneh.

Kalau capek, disuruh healing.
Kalau sedih, disuruh self love.
Kalau gagal, disuruh hustle lagi.

Pokoknya semua harus cepat pulih supaya besok bisa produktif lagi.

Akhirnya banyak orang jadi bingung membedakan mana hidup, mana cuma bertahan.

Saya pernah ngobrol sama beberapa kawan. Lucunya hampir semua jawabannya mirip: capek. Tapi capek yang susah dijelaskan.

Bukan capek habis kerja berat. Tapi capek karena hidup rasanya tidak pernah benar-benar selesai. Habis satu masalah, datang masalah lain. Habis mikir biaya hidup, mikir masa depan. Habis mikir keluarga, mikir kerjaan.  Di tengah semua itu, kita mulai kehilangan tempat aman untuk cerita.

Karena semua orang juga lagi sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing.

Kadang kita pengen cerita, tapi lihat teman juga lagi susah. Akhirnya tidak jadi. Pengen jujur soal isi kepala, tapi takut dianggap lemah. Takut dibilang kurang bersyukur. Takut diceramahin.

Akhirnya ya sudah. Dipendam sendiri.

Erich Fromm pernah bilang manusia modern itu mengalami alienasi. Terasing. Bukan cuma dari orang lain, tapi juga dari dirinya sendiri.

Dulu saya pikir teori begitu terlalu akademis.

Sekarang saya mulai ngerti.

Karena hari ini banyak orang hidup seperti sedang memainkan karakter dirinya sendiri. Di media sosial kita membangun versi yang rapi, lucu, kuat, produktif, santai. Tapi semakin lama dimainkan, kadang kita sendiri lupa mana diri asli, mana versi yang kita tampilkan supaya tetap diterima lingkungan. Dan itu melelahkan.

Makanya saya rasa kesepian hari ini beda dengan kesepian zaman dulu.

Dulu kesepian itu karena tidak ada orang. Sekarang kesepian bisa datang bahkan di tengah keramaian.

Kita nongkrong bareng, tapi masing-masing sibuk lihat HP. Kita kumpul keluarga, tapi pikirannya entah ke mana. Kita ketawa bareng teman, tapi pulang-pulang tetap merasa kosong.

Mungkin karena manusia sebenarnya tidak cuma butuh interaksi. Manusia butuh merasa dipahami. Dan itu yang makin mahal hari ini.

Kadang saya rindu obrolan sederhana zaman dulu. Duduk di warung kopi tanpa buru-buru. Cerita hidup tanpa takut dihakimi. Tidak perlu terlihat keren. Tidak perlu terlihat sukses. Cuma jadi manusia saja.

Karena makin ke sini saya sadar, di zaman semua orang sibuk mencari perhatian, ternyata yang paling langka justru perhatian yang tulus.

Berita Terkait

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?
Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Angkat Sampah Bersama
“Aman?”: Cara Tanya Kabar Tanpa Tanya Kabar
Indomie sebagai Ideologi Nasional

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:02 WIB

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:31 WIB

Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Angkat Sampah Bersama

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

“Aman?”: Cara Tanya Kabar Tanpa Tanya Kabar

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:04 WIB

Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:27 WIB

Indomie sebagai Ideologi Nasional

Omelan Terbaru

Receh Serius

Teman Banyak, Tapi Kok Makin Susah Punya Tempat Cerita?

Kamis, 4 Jun 2026 - 00:02 WIB

Resah Berjamaah

Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Angkat Sampah Bersama

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:31 WIB

Negara Ribet

Ekonomi Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Katanya

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:01 WIB

Receh Serius

“Aman?”: Cara Tanya Kabar Tanpa Tanya Kabar

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

Receh Serius

Alienasi Manusia Modern: Ramai yang Kosong

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:04 WIB